Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Dai Internasional Sarankan Tazkiyatun Nafs Masuk Kurikulum Akademik

Senin, 10 Mei 2021 | 20:24 WIB Last Updated 2021-05-11T02:40:59Z

Syeikh DR. Fuad Abdo Muhammad Al-Soufi saat menjadi narasumner dalam acara Kajian Tazkiyatun Nafs bertajuk "Ramadhan Momentum untuk Menyucikan Jiwa" digelar DKM Masjid Ummul Quro, Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Senin, 10 Mei 2021 (Foto: Fadli El Mutawakkil/ Nasional.news)

JAKARTA - Dai internasional Syeikh DR. Fuad Abdo Muhammad Al-Soufi, menginisiasi dimasukkannya materi tazkiyatun nafs sebagai materi ajar di lembaga pendidikan formal karena muatannya yang dinilai amat penting dalam membentuk jiwa manusia. 


Hal itu disampaikan DR. Fuad Abdo Muhammad Al-Soufi dalam Kajian Tazkiyatun Nafs bertajuk "Ramadhan Momentum untuk Menyucikan Jiwa" yang digelar oleh DKM Masjid Ummul Quro, Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Senin (10/5/2021). 


 "Tazkiyatun Nafs adalah perkara yang sangat penting dalam kehidupan ini, tapi sangat disayangkan dia tidak masuk dalam kurikulum akademik. Hanya dijadikan pelajaran tambahan saja," kata Dr Fuad Abdo dalam kajian yang berlangsung virtual lewat aplikasi Zoom tersebut. 


Dai lintas negara yang juga Direktur Al Wefaq Internasional Development ini mengatakan betapa pentingnya tazkiyatun nafs, bahkan ia melampaui keutamaan ta'lim. Menurutnya, keduanya sering sejalan. Oleh karenanya, beliau menegaskan, bahwa umat Islam mesti memahami bahwa ta'lim dan tazkiyatun nafs dua sisi tak terpisahkan 


"Manakah yang lebih utama antara ta'lim atau tazkiyatunnafs. Di dalam Al-Qur'an ada beberapa ayat yang membahas tentang tazkiyatun nafs dan ta'lim, kebanyakan ditemukan mendahulukan kalimat tazkiyah daripada ta'lim," imbuhnya. 


Syeikh DR. Fuad Abdo Muhammad Al-Soufi menukaskan, tazkiyatun nafs sejatinya bukan semata proses penyucian jiwa dari perbuatan dosa dan proses pembinaan akhlakul karimah dalam diri dan kehidupan manusia, melainkan ia juga merupakan ilmu tentang hati. 


"Tazkiyatun nafs pada hakikatnya adalah fiqhul quluub, ilmu untuk mengetahui hati,  apa yang harus ia perbuat dan apa yang harus ia tinggalkan," ungkapnya.


Beliau pun berpesan semoga Ramadhan yang akan pergi tinggal menghitung jari ini betul betul menjadi momentum istimewa untuk kembali mentazkiyah jiwa-jiwa kita.


Kajian virtual yang berlangsung selepas shalat Asar hingga menjelang berbuka puasa ini diikuti oleh peserta itikaf DKM Masjid Ummul Quro, Pondok Pesantren Hidayatullah Depok serta pembina dan pengurus Yayasan Hidayatullah Depok. 


Pengajian ini juga turut dihadiri oleh Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok Al Ustadz Lalu Mabrul, M.Pd.I dan Ketua DKM Masjid Ummul Quro  Al Ustadz Rasfiuddin Sabaruddin S.sy, MIRK yang sekaligus memandu acara tersebut.

×
Advertisement Link di Sini