Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Menilik Perkara Hak Cipta di Tengah Gempuran Industri Digital

Senin, 10 Mei 2021 | 14:02 WIB Last Updated 2021-05-10T15:46:47Z


Oleh Maulidina Zahra Nabila*


DALAM keseharian, seringkali dijumpai karya seni yang memantik rasa kagum. Selain karena karya artistik itu mengaksentuasi kekuatan karakternya yang khas, ia juga tentu lahir dari kelihaian pembuatnya yang tak semua orang mampu melakukannya. 


Pada akhir paduan karya seni yang eksotik, khususnya dalam bidang seni rupa dan desain, baik itu secara konvensional menggunakan tangan maupun digital, ia memiliki daya pikat karena penjiwaan kreatornya.


Namun, dalam implementasinya, tak banyak yang mengerti tentang berbagai kompleksitas serta kerumitan prosesnya, seperti bagaimana memadukan gradasi beraneka warna maupun menciptakan suatu pesan pada sebuah karya. 


Oleh karena itu, seni grafis sejatinya mahal harganya. Karena yang dijual bukan hasil olah visual semata, melainkan juga adanya muatan esoterik dan mengandung kreativitas mendalam dari sang pembuat.


Di zaman dengan teknologi serta gempuran indsutri digital yang massif dan sedemikian canggih saat ini, seni grafis kian mendapat ruang ekspresi yang luas. Dengan media sosial, setiap person dapat unjuk kebolehan dalam rangka menarik minat para investor maupun pujian dari khalayak.


Tak hanya pameran di ruang terbuka, seseorang dengan ide yang luar biasa namun memiliki keterbatasan biaya pun dapat ikut menunjukkan kebolehannya melalui media online yang saat ini tengah menjadi arus utama gaya interaksi masyarakat digital.


Biasanya, para penggiat seni menggunakan perantara media sosial untuk menyebarluaskan karya yang dimilikinya. Hal ini karena dalam media sosial, banyak populasi yang hidup dengan berbagai gaya dan budaya. 


Di media sosial terdapat juga komunitas pecinta seni yang berburu hasil karya disana. Bukan berarti cakupannya sebatas itu saja, masyarakat awam seni pun dapat turut menikmati dan menilai sebuah hasil karya yang diunggah disana.


Namun, banyak yang tidak mengetahui, bahkan terkesan acuh tak acuh terhadap masalah hak cipta. Padahal, pengguna media sosial seharusnya memperhatikan adanya simbol-simbol yang tertera dalam suatu karya. 


Secara internasional, lambang © atau hak cipta (copyright) menunjukkan bahwa konten atau semua yang ada di media sosial dan internet merupakan hak cipta yang dilindungi. Sehingga, pengguna konten harus memiliki izin atau sepengetahuan dari pengguna.


Adapun definisi dari hak cipta sendiri menurut Pasal 1 ayat 3 UU Hak Cipta adalah setiap hasil karya cipta di bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra yang dihasilkan atas inspirasi, kemampuan, pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan, atau keahlian yang diekspresikan dalam bentuk nyata (Nasrullah, 2016). 


Perkara hak cipta sejatinya merupakan hal yang sangat serius untuk diperbincangkan. Banyaknya kasus plagiarisme di media sosial yang mana merupakan sebuah pembajakan dari hak cipta mengindikasikan bahwa kesadaran masyarakat tergolong masih rendah. 


Saat ini, fenomena plagiarisme sering dijumpai dalam bentuk penyebaran ide-ide, kata-kata atau bentuk karya tanpa persetujuan. Termasuk dalam distribusi materi visual grafis.  


Untuk melindungi hak intelektual sang pemilik karya, Indonesia telah mengatur sebuah undang-undang yang berisi tentang hak cipta di dunia maya dalam UU No. 12 tahun 1997 Pasal 11 Ayat 1 yang menyebutkan bahwa program komputer merupakan ciptaan yang dilindungi dengan jangka waktu perlindungan selama 50 tahun sejak pertama kali diumumkan, termasuk di dalamnya web content (teks, grafik, gambar, video, dan audio yang terdapat pada halaman web). 


Selain itu, kode etik tentang hak cipta dalam dunia maya juga terdapat dalam Nettique yang melarang pengguna internet untuk melakukan penyalinan atau penjiplakan atas hasil karya orang lain.


Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) juga telah mengatur Hak Kekayaan Intelektual dalam Pasal 25 yang menyatakan bahwa informasi elektronik dan /atau dokumen elektronik yang disusun dan didaftarkan sebagai karya intelektual, hak cipta, paten, merek, rahasia dagang, desain industri, dan sejenisnya wajib dilindungi oleh UU ITE dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan (Surniandari, 2016).


Selain media sosial, beberapa media online sering mengambil karya dari media sosial tanpa izin dari sang pemilik. Padahal, karya-karya yang ada dalam media sosial tetap saja dilindungi dan tidak dapat digunakan untuk keperluan komersil tanpa ada izin dari pihak yang bersangkutan. 


Media online tetap harus berpegang pada pedomannya, yakni pemberitaan media siber yang dikeluarkan oleh Dewan Pers. Pada poin 7 di pedoman media siber menyebutkan bahwa media siber wajib menghormati hak cipta sebagaimana yang diatur dalam perundangundangan yang berlaku, yaitu UU No. 28 tahun 2014 tentang hak cipta. 


Contoh kasus pelanggaran hak cipta misalnya terjadi pada tahun 2017. Media online yang mempunyai segmentasi ke ranah anak muda, yaitu Hipwee, telah mengunggah hasil karya fotografi seorang influencer bernama Danar Tri Atmojo tanpa izin. 


Tak hanya diunggah ulang, Hipwee juga melakukan modifikasi dengan memberi watermark dan teks pada hasil foto milik Danar. Danar kemudian menyatakan keberatannya sekaligus memberikan invoice atas penggunaan dan modifikasi foto tersebut.


Namun, Hipwee hanya menanggapinya dengan menghapus foto Danar yang mereka unggah. Danar kemudian mengungkapkan kekesalannya di instagram agar pengikutnya lebih aware terhadap masalah hak cipta karya fotografi (Murfianti, 2020).


Walaupun dapat dengan bebas bermain dan mencurahkan apa saja melalui media sosial, kita juga harus memperhatikan hukum dan etika yang diterapkan di sana. 


Layaknya di dunia nyata, ketika berinteraksi dalam dunia maya, pengguna internet, yang dalam hal ini khususnya pengguna media sosial, juga harus mengikuti etika dan hukum yang ada. 


Contoh media sosial yang menerapkan hukum dan etika terhadap hak cipta adalah Instagram. Instagram sebagai platform yang sering digunakan untuk mempublikasikan lukisan, foto, video, maupun karya seni visual grafis lainnya mempunyai peraturan yang cukup ketat mengenai hak cipta. 


Jika pengguna Instagram ingin mempublikasikan konten orang lain, pihak Instagram telah menyarankan agar terlebih dahulu pengguna memastikan hak cipta atas karya tersebut. 


Instagram juga menekankan bahwa akun yang terdeteksi mengambil orang lain secara tidak sengaja akan tetap dinilai telah melakukan pelanggaran, apalagi yang murni hanya mengambil tanpa mencantumkan nama sang pembuat karya. Media sosial lainnya seperti Youtube juga mempunyai peraturan terkait hak cipta. 


Dalam menggunakan Youtube, seseorang hanya dapat mempublikasikan karya yang mereka garap sendiri atau memang telah mendapat persetujuan dari pihak yang memiliki hak cipta untuk mempublikasikannya ke Youtube. 


Apabila users melanggar hal tersebut, Youtube akan menghapus konten si pelanggar dan memberikan surat peringatan. 


Jika telah mendapatkan surat peringatan sebanyak 3 kali, maka akun Youtube tersebut akan di nonaktifkan dan royalti dari konten yang terindikasi melakukan pelanggaran hak cipta akan dialihkan kepada sang pemilik hak cipta.


Pinterest pun turut melakukan upaya untuk melindungi hak cipta sang pembuat konten dengan menyiapkan formulir pengaduan yang dapat diisi oleh korban pelanggaran hak cipta.


Pihak yang terbukti melakukan pelanggaran akan mendapatkan peringatan, mencabut kemampuan akun untuk menyimpan pin, bahkan menonaktifkan akun (Adinda, 2019).


Kesadaran mengenai hak cipta di Indonesia memang belum merata. Oleh karena itu, perlu adanya perhatian dan kerjasama antara masyarakat, swasta dan pemerintah. 


Dalam sisi masyarakat dan swasta, apabila ingin menggunakan karya orang lain, hendaknya meminta izin terlebih dahulu dari sang pencipta atau pemegang hak ciptanya, baik untuk kegiatan komersil maupun nonkomersil. 


Sedangkan dari sisi pemerintah, perlu adanya sosialisasi dan memperketat hukum yang mengatur tentang hak cipta agar menimbulkan daya cegah yang kuat serta efek jera bagi si pelanggar hak cipta.


*) Maulidina Zahra Nabila, penulis adalah mahasiswi Universitas Sebelas Maret, Surakarta



DAFTAR PUSTAKA


Adinda, Permata. (2019). Sama-Sama Tahu Lebih Banyak Tentang Hak Cipta. Asumsi.co.
https://asumsi.co/post/sama-sama-tahu-lebih-banyak-tentang-hak-cipta


Murfianti, Fitri. (2020). Hak Cipta dan Karya Seni Di Era Digital. Acintya-Jurnal Penelitian Seni Budaya. 12(1).
doi:https://doi.org/10.33153/acy.v12i1.3147.


Nasrullah, Rulli. (2016). Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi, Simbiosa Rekatama Media: Bandung


Surniandari, Artika. (2016). UU ITE dalam Melindungi Hak Cipta Sebagai Hak Atas Kekayaan

Intelektual (HKI) dari Cybercrime. Cakrawala-Jurnal Humaniora, 16(1).
doi:https://doi.org/10.31294/jc.v16i1.1276


Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

Undang-Undang RI Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta

×
Advertisement Link di Sini