Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Maulidya Chairunnisa Raih Gelar Sarjana dan Wisudawan Terbaik UIN Jakarta

Sabtu, 05 Juni 2021 | 18:32 WIB Last Updated 2021-06-07T00:22:14Z


JAKARTA - "Sebuah mimpi tidak menjadi kenyataan melalui sihir; itu membutuhkan keringat, tekad dan kerja keras". Begitulah adagium populer yang acapkai mampir di telinga. Pepatah ini tepat untuk menggambarkan pencapaian yang berhasil diraih salah satu mahasantri Pesmadai Putri ini. 


Namanya Siti Maulidya Chairunnisa. Hari ini, Lidya, begitu ia biasa disapa, resmi menyandang gelar sarjana S.Sos. Momen ini juga terbilang amat istimewa sebab dia berhasil mendapat predikat sebagai salah satu wisudawan terbaik . 


Ia dikukuhkan pada Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana ke-120 Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang digelar secara online, Sabtu (5/6/2021).


Berhasil meraih anugerah sebagai wisudawan terbaik pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi dari perguruan tinggi ternama Tanah Air, wanita kelahiran Bekasi inipun mengaku sangat senang dan bersyukur. 


"Kalimat pertama yang pantas terucap adalah Alhamdulillaahilladzi bi ni'matihi tatimmush shalihaat," kata perempuan berhijab ini kepada Nasional.news


Lidya mengatakan, pencapaiannya ini bukan karena usahanya semata melainkan ada campur tangan pertolongan dan bantuan dari Allah yang telah memudahkan dapat sampai di titik akhir menyelesaikan studi sarjana dan lulus tepat waktu.


"Wisuda buat saya adalah waktu untuk merapikan mimpi, setelah melewati perjuangan yang luar biasa hebatnya. Wisuda juga merupakan waktu untuk melihat peluang lebih luas serta menjadi awal gerbang kehidupan baru akan segera dimulai," katanya. 


Lidya yang juga santriwati Pesantren Mahasiswa (Pesmadaiyah) angkatan pertama ini berharap, ilmu dan pengalaman yang telah diperoleh dapat bermanfaat khususnya untuk diri dan umumnya untuk keluarga, agama, bangsa, negara, dan umat. 


"Saya juga berharap dapat berperan dan berkontribusi dengan mengamalkan ilmu yang telah saya pelajari," imbuhnya. 


Selain sibuk dengan rutinitas di ruang kuliah, Lidya juga sosok organisatoris yang banyak terlibat dalam kegiatan kemahasiswaan. Diantaranya ia pernah memimpin UKM LDK Syahid Komisariat Dakwah Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta.  

Siti Maulidya Chairunnisa berfoto dengan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis, Lc., M.A usai Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana ke-120 yang digelar secara online, Sabtu, 5 Juni 2021.

Lidya yang mengambil jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) ini juga aktif dalam pengembangan literasi dengan bergabung menjadi anggota dan dan pengurus Forum Lingkar Pena (FLP) Ciputat. 


Diantara buah karya literasinya adalah saat menyoroti masalah stunting di Tanah Air dengan menulis makalah ilmiah berjudul "Digitalisasi Penanggulangan Stunting Sejak Dini" yang kemudian dipublikasikan dalam bentuk buku rampai berjudul "Representasi Materi Komunikasi Penyuluhan di Era Revolusi Industri 4.0" bersama sejumlah penulis lainnya. 


Dengan seabreg kenangan di salah satu lembaga pendidikan tinggi Islam tertua di Indonesia ini, maka, wajar Lidya mengaku tak bisa melupakan berbagai memori pada almamaternya tersebut. 


Ia pun menceritakan kembali awal pertama menjalani proses perkuliahan di Kampus Biru itu. Sejak awal, ia sudah langsung klop dengan mata kuliah yang baginya menarik dan sesuai dengan minatnya. 


Lidya juga tak dapat melupakan peran dosen pengajar dengan berbagai macam karakter menjadi keunikan tersendiri dalam menjalani aktivitas perkuliahan. "Itu adalah tantangan mahasiwa untuk memahami materi dengan cara yang berbeda-beda," katanya.


Memasuki tahun ke-2, perjalanan studi Lidya makin banyak dengan segala aktivitas di lapangan. Hal itu membuatnya semakin lebih semangat untuk segera menyelesaikan dan mengambil peran. 


"Meskipun di semester akhir menjalani perkuliahan daring, tapi itu semua tidak mengurangi ghirah saya untuk terus menyelami hikmah yang akan Allah kasih untuk kita semua," ungkapnya.


Kendati harus menjalani prosesi wisuda dalam suasana yang berbeda di tengah masa pandemi berkepanjangan, Lidya mengaku tetap senang, apalagi ini merupakan kesempatan yang penuh perjuangan untuk bisa sampai pada titik ini.  


"Alhamdulillah, kebahagiaan yang luar biasa karena bisa merayakan sebuah perjuangan yang tidak mudah dilewati," ujarnya. 


Sejatinya wisuda merupakan momen sesaat yang pertanda bahwa tantangan baru sudah di depan mata, terlebih saat ini suasana pandemi. Sehingga wisuda pun kemudian harus dilakukan secara daring. Namun, atas takdir-Nya, Lidya mendapat undangan khusus untuk dapat mengikuti prosesi wisuda secara langsung (offline). 


"Saya menganggap bahwa ini terjadi bukan karena saya hebat, tapi ini terjadi lagi-lagi karena kebesaran Allah yang Maha Baik. Saya merasa diundang oleh Allah untuk merasakan bukti nyata kebesaran-Nya. Tentunya juga berkat doa-doa dari orangtua, keluarga dan orang-orang baik yang senantiasa mendoakan," kata Lidya penuh haru. 


Untuk dapat sampai pada titik ini, Lidya mengatakan, dirinya menempuh perjuangan yang tidak ringan. Ia membutuhkan kesungguhan dan tekad yang kuat. Namun, dia menegaskan, ini barulah awal untuk menghadapi tantangan berikutnya. 


"Awal menjadi orang hebat adalah optimis. Optimis untuk terus mengejar cita-cita, meraih ridho-Nya dan menggapai surga-Nya. Memang bukan hal yang mudah, tapi dengan kita berusaha dan berdoa itu merupakan bukti bahwa kita optimis; kita bisa," kata Lidya berbagi tips selalu semangat.


Dalam belajar dan berkarya, Lidya mengaku terinspirasi dengan orangtuanya yang tak pernah bosan memberikan wejangan. Salah satu pesan dari orangtua yang sampai saat ini terus diingatnya: "Yakin sama Allah, karena Allah Kuasa dan Allah yang akan selesain semuanya".


"Kunci semangat itu bukan sepenuhnya dari faktor eksternal, meskipun ada, tapi tidak berpengaruh besar. Justru kuncinya adalah ada di dalam diri kita sendiri. Jadi, porsikan diri untuk tetap bisa optimis dan semangat," ungkapnya menambahkan. 

 

Tak lupa ia juga berpesan kepada para mahasiswa "pejuang skripsi" lainnya untuk terus bersemangat serta memantapkan diri dengan banyak berdoa dan berusaha.  


"Percayalah, perjalanan yang saat ini sedang ditempuh bukan akhir dari perjalanan kita, karena besok harus berjuang lebih keras lagi. Semangat, semoga selalu dimudahkan dan dilancarkan," imbuh gadis yang berikhtiar menjadi penghafal Al Qur'an ini.


Lidya mengatakan perkembangan di masa depan semakin cepat dan dinamis. Realita ini menurutnya tentu menjadi tantangan menarik bagi sarjana untuk terus belajar dan melahirkan inovasi. 


Karena itu, baginya doa dan terus berusaha menjadi modal penting untuk meningkatkan kapasitas diri. Ia pun bercita-cita semoga dapat mengambil peran terbaik dengan cara dan sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya


Mahasantri Pesmadai Putri


Seperti juga anak muda pada umumnya, Lidya tetap update terhadap perkembangan dan mengikuti tren kekinian. Namun, ia tetap dalam jatidiri muslimah yang anggun.


Di tengah arus globalisasi ini, Lidya terus berupaya mengembangkan diri, termasuk dalam kecakapan Al Qur'an. Ia pun mengaku amat senang ketika dinyatakan diterima menjadi santri Pesmadai Putri yang salah satu fokus programnya tahfidzul Qur'an.


"Menjadi bagian dari Pesmadai Putri adalah salah satu doa yang pernah saya panjatkan, untuk dapat bergabung bersama orang-orang hebat yang dekat dengan Qur'an," kata dara manis yang selalu riang ini.


Menurut Lidya, mempelajari Al Qur'an memang tidak mudah, namun ia bertekad, dan dengan itu ia harus mampu mengatur waktu dengan baik. "Satu perjuangan yang memang bukan mudah, untuk terus mencoba istiqamah tanpa kenal lengah," katanya.


Lidya bersyukur dapat belajar di Pesmadai Putri yang baginya menjadi kesempatan berharga karena tidak saja bisa belajar bersama, tetapi juga menemukan wadah untuk menjadi pribadi yang positif.


"Dipertemukan dengan orang-orang yang dapat memberi vibes positif untuk saya, lagi-lagi ini karena Ke-Maha Baikan-Nya. Melewati dari waktu ke waktu untuk terus mendekatkan diri dengan Quran, memurojaah, menghafal, belajar tahsin, bahasa Arab, fiqh, entrepreneur dan lainnya yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari saya setelah bergabung di Pesmadai Putri," ungkapnya.


Lidya mengungkapkan banyak pelajaran dan pengalaman yang ia dapatkan, banyak hikmah yang selalu tersemai, banyak juga hal-hal unik yang telah dilewati bersama Pesmadai Putri.


"Terima kasih saya ucapkan kepada pembina, asatidz asatidzah, serta teman-teman semua yang telah membersamai selama ini," ujar dia.


Ia pun berharap semoga kedepannya Pesmadai semakin maju, sukses dan semakin banyak melahirkan generasi penghafal Quran yang hebat dan mutqin.


"Dan semoga bisa melahirkan generasi dai daiyah untuk mensyiarkan nilai-nilai agama kepada umat di negeri ini, bahkan lebih meluas hingga ke seluruh penjuru dunia," pungkasnya.(ybh/hio)

×
Advertisement Link di Sini