Notification

×

Iklan

Iklan

Jangan Anggap Enteng Pinjam Meminjam, Beginilah Islam Mengaturnya

Jumat, 23 Juli 2021 | 11:07 WIB Last Updated 2021-07-23T10:25:38Z


SEBAGAIMANA
kodratnya, manusia selalu memerlukan interaksi. Begitupula, sebagai makhluk sosial, maka manusia tak bisa lepas dari peran manusia lainnya. Pada kenyatannya, memang, tak ada manusia yang bisa hidup sendiri. Termasuk kamu. Iya, kamu!.


Sudah menjadi fithrah manusia untuk saling terhubung satu sama lain. Disitulah nanti akan terbangun kerjasama dan tidak luput dari kegiatan saling membantu. 


Selayaknya sebagai makhluk sosial, kita satu sama lain saling membutuhkan. Demikian halnya dalam kehidupan sehari hari. Maka karena itulah, terjadilan interaksi, koneksi, kohesi dan sinergi, diantaranya dengan pinjam meminjam.


Itulah poin yang akan kita bahas yaitu mengenai pinjam meminjam, atau kalau dalam istilah Arab, 'Ariyah. Ini penting diangkat kembali karena masih acapkali dianggap enteng, padahal perkara ini amat mendasar karena nyaris setiap waktu terjadi. 


Perkara 'Ariyah termasuk satu hal yang tak terpisahkan dari kehidupan kita. Sebab, memang, manusia itu tidak luput dari namanya kekurangan, sehingga kita sebagai manusia lainnya harus saling melengkapi diantaranya melalui kesepahaman dalam pinjam meminjam.


Masalah pinjam meminjam ini banyak sekali disinggung dalam kitab Al-Quran. Misalnya, diantaranya disebutkan pada surat Al-Ma’un ayat 5-7 dan dinukil juga dalam surat Al-Maidah ayat 2. 


Di dalam kedua surah tersebut, diterangkan bahwa kita manusia dianjurkan agar saling tolong menolong dalam kebaikan, dan janganlah tolong menolong dalam kejelekan dan kemudharatan termasuk dalam perkara pinjam meminjam.


Lalu, apa sih arti dari ‘Ariyah atau pinjam meminjam itu? ‘Ariyah secara majazi adalah pinjam meminjam antara benda-benda yang dikalkulir melalui takaran, imbangan, hitungan dan lain-lain. 


Adapun menurut Imam Syafi’i dan Hanabilah berpendapat bahwa 'ariyah adalah suatu kebolehan untuk mengambil manfaat dari benda. 


Dari simpulan jumhur ulama, dapat ditarik benang merah bahwa pinjam meminjam (ariyah) memiliki dua hak, yaitu, yang pertama, 'Ariyah mutlak.


'Ariyah mutlak adalah pinjam meminjam barang yang dalam akadnya tidak dijelaskan persyaratan apapun, seperti apakah pemanfaatanya hanya untuk peminjam saja atau dibolehkan untuk orang lain. Artinya, atau tidak jelas penggunaannya.


Sementara hak yang kedua adalah ‘Ariyah muqayyad. Maksudnya adalah meminjamkan suatu barang yang dibatasi dari segi waktu dan kemanfaatannya, baik disyaratkan pada keduanya atau salah satunya.


Saya coba berikan contoh. Saat kita meminjam mobil pada teman, lalu ia memperbolehkan mobilnya digunakan tanpa terkecuali digunakan untuk apapun, selama masih dalam batas wajar kegunaan mobil tersebut. Maka hal tersebut disebut hak ‘ariyah mutlak. 


Jadi, dalam hak 'ariyah mutlak, mobil itu bebas digunakan, seperti untuk mengantar teman, untuk pergi bersama keluarga dan yang lainnya dalam penggunaan yang wajar. 


Namun, kedudukan haknya akan berbeda jika kita meminjam mobil kawan kita itu lalu ia mensyaratkan agar mobil itu tidak dipakai untuk mengangkut penumpang lebih dari 4 orang, atau ia mengingatkan agar mobilnya tersebut tidak digunakan untuk perjalanan jauh. 


Maka, dalam konsteks kasus kedua ini, si peminjam harus menaati aturan tersebut dan hak inilah yang disebut dengan hak ‘ariyah muqayyad.

 

Dasat hukum ‘Ariyah ini ada 2 yaitu diambil dari Al-Qur’an dan Hadits. Dasar hukum dari Al-Qur’an adalah surah Al Maun, Al Maidah dan surah An-Nisa.


Adapun dasar hukum berlandaskan Sunnah adalah sebuah sabda dari Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhori yang berbunyi: 


"Siapa yang meminjam harta manusia dengan kehendak membayarnya, maka Allah akan membayarnya. Barang siapa yang meminjam namun hendak melenyapkannya, maka Allah akan lenyapkan hartanya".


Sampai di sini dapat disimpulkan bahwa perkara pinjam meminjam ('ariyah) itu merupakan masalah penting, yang, oleh karena itu, ia sampai diatur sedemikian rupa dalam syariat agama kita. Kita tidak boleh menganggap enteng perkara ini karena Islam pun amat memperhatikan persoalan ini. 


Para fuqaha juga telah memberikan rambu rambu yang jelas mengenai hal hal yang menjadikan perkara pinjam meminjam ini batal atau berakhir. Berakhirnya pinjam meminjam diantaranya karena salah satu pihak menjadi tidak lagi cakap hukum dalam melakukan akad ‘Ariyah.


Selain itu, pinjam meminjam berakhir apabila ada penipuan terhadap keadaan barang dan diantara yang meminjam dan yang memberikan pinjaman jiwanya sedang tidak waras atau gila. 


Itulah diantara ibrah dan hikmah pinjam peminjam dalam Islam. Begitulah luar biasanya Islam sebagai jalan kebahagiaan serta pandangan hidup, sehingga hal hal yang mungkin dianggap sepele pun memiliki peraturan dan adabnya sendiri. Wallahu 'alam.



Putri Fauziyah Haqiqi, penulis adalah mahasiswa STEI SEBI dan trainee journalist di Nasional.news

×
Advertisement Link di Sini