Notification

×

Iklan

Iklan

KH Nuruzzaman: Berjamaah Kunci untuk Bangkit dari Keterpurukan

Senin, 12 Juli 2021 | 23:02 WIB Last Updated 2021-07-13T10:15:13Z


JAKARTA - Ketua Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat Majelis Ulama Indonesia (KPEU MUI) Pusat KH. Ir. Nuruzzaman mengatakan kini bangsa Indonesia menghadapi problem besar berupa keterpurukan ekonomi seiring dengan massifnya gempuran pandemi covid-19. 


Namun, menurutnya, bangsa ini akan terus berdiri dan survive menghadapi berbagai gejolak dan tantangan tersebut apabila berkomitmen membangun kekuatan melalui jamaah. 


"Solusi konkrit dan peta jalan agar umat bangkit dari keterpurukan pada saat ini adalah berjamaah," kata Nuruzzaman dalam keterangannya usai ditunjuk menjadi Ketua Koperasi Demi Umat yang bertepatan dengan Hari Koperasi Indonesia (Harkopnas) ke-74 di Jakarta, Senin (12/7/2021). 


Nuruzzaman menjelaskan, beramal jama’i atau bekerja bersama merupakan kesadaran untuk saling membantu dan menolong. 


Dia menegaskan, kerelaan untuk saling membantu atau taawun bahkan saling pasang badan antar anak bangsa ada dalam satu wadah bernama koperasi. 


"Menjalankan koperasi hendaknya tidak seperti menjalankan korporasi kapitalis, dimana pemilik modal yang paling berkuasa dan ingin terus menerus berkuasa," katanya. 


Menurutnya, koperasi melandaskan gerakannya pada pengkhidmatan untuk khalayak luas sehingga terbangun suatu ekosistem ekonomi yang kokoh, adil dan berkesinambungan. 


Lebih jauh diterangkan dia, dalam pembelaan terhadap UMKM, Koperasi Demi Umat telah menyiapkan sistem pelatihan dan pembinaan intensif untuk anggota serta digitalisasi marketplace close loop untuk penyerapan produk UMKM.


"Koperasi Demi Umat akan mengawal ekosistem halal UMKM sehingga bisa bersaing di tataran internasional. Juga mengandalkan sistem penjaminan mutu halal Internal berupa wali pendampingan, sertifikasi halal yang mudah dan murah," imbuhnya. 


Dalam hal ini Koperasi Demi Umat bersinergi dengan dengan MUI, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Istiqlah Indonesia Halal Center (IIHC) dan Halal Center Cinta Indonesia (HCCI).


Dalam membangun keberpihakan pada rakyat, para pendiri Kop Demi Umat sebelumnya telah melakukan silaturahim dan membangun aliansi dengan berbagai pihak seperti Bank Syariah Indonesia (BSI), Kamar Dagang dan Indsutri (Kadin), Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (Hebitren) dan Induk Koperasi Pesantren (Inkopontren).


Selain itu, pihaknya juga menjalin sinergi degan Forum Silaturahim Pondok Pesantren (FSPP), Induk Koperasi Syariah (Inkopsyah) dan Sekolah Peternakan Rakyat (SPR).


Koperasi Demi Umat juga akan menggandeng Kemenkop dan UMKM sehingga menjadi Koperasi berskala internasional, dan diperhitungkan di dalam International Cooperatif Aliance (ICA). 


"Sudah saatnya koperasi di Indonesia memiliki anak perusahaan multi nasional di berbagai negara lainnya," kata Nuruzzaman optimis.


Dalam menguatkan upayanya tersebut, Koperasi Demi Umat akan terus mendorong kebangkitan ekonomi umat berupaya menggerakkan ekonomi dengan konsep dan mindset shadaqah yang dapat menghancurkan riba.  


Tidak hanya kekuatan dana investasi, Kop Demi Umat juga akan menggerakan kekuatan dana sosial seperti ziswaf, bantuan sosial negara, CSR BUMN/swasta sebagai backup dalam membangun kebangkitan dan daya saing UMKM terutama saat terpuruk akibat pandemi. 


"Gerakan ini akan mengembalikan kedaulatan rakyat sebagai pemilik industri dari hulu ke hilir di negerinya sendiri," imbuhnya.


Nuruzzaman lantas menyoroti dinamika kebangsaan dewasa ini dimana covid-19 telah menjangkiti lebih dari 1,3 juta orang sejak kasus pertama diumumkan pada bulan Maret 2020. 


Dia menyebutkan, setidaknya 35.000 orang telah meninggal dunia. Namun, upaya untuk menghambat penyebaran virus COVID-19 sejauh ini telah menghambat kegiatan perekonomian dan berdampak pada menurunnya tingkat kesejahteraan sosial.


"Satu dari 10 orang di Indonesia hari ini hidup di bawah garis kemiskinan nasional. Jika tidak ditemukan peta jalan yang jelas, maka dampak pandemi ini terhadap keadaan sosial-ekonomi bisa menjadi jauh lebih buruk," kata Nuruzzaman mewanti wanti.


Dia mengungkapkan, akibat langsung dari pandemi ini adalah menurunnya tingkat daya beli masyarakat hingga sebesar Rp 362 triliun. Hal ini juga akan berpengaruh ke pelaku UMKM, bahkan, dia menukil Katada Insight Center (KIC), bahwa mayoritas UMKM sebesar 82,9% merasakan dampak negatif dari pandemi ini. 


Pada level tertentu, kondisi pandemi ini bahkan menyebabkan 63,9% dari UMKM yang terdampak mengalami penurunan omset lebih dari 30%. 


Akibatnya, untuk mempertahankan kondisi usahanya, pelaku UMKM terpaksa melakukan berbagai efisiensi seperti menurunkan produk barang atau jasa, mengurangi jumlah tenaga kerja dan mengurangi saluran penjualan dan pemasaran.


Di sini lain, sektor UMKM memiliki kontribusi besar terhadap PDB Indonesia sebesar 61,07% atau senilai dengan Rp 8,573,89 triliun. Karena itu, Ketua Umum DPP Al-Ittihadiyah ini berharap harus ada perhatian serius terhadap eksistensi UMKM. 


"Koperasi yang diprakarsai oleh beberapa tokoh nasional ini bertujuan untuk mengangkat ekonomi umat dari keterpurukan ekonomi saat pandemi seperti ini," pungkasnya. 


Diresmikannya Koperasi Pemberdayaan Ekonomi Umat yang kemudian disebut Koperasi Demi Umat ini bertepatan dengan Hari Koperasi Indonesia ke-74 yang diperingati pada hari Senin, 12 Juli 2021. (ybh/hio)

×
Advertisement Link di Sini