Notification

×

Iklan

Iklan

Tokoh Muslimah Prof. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo Meninggal Dunia

Jumat, 23 Juli 2021 | 06:37 WIB Last Updated 2021-07-23T07:58:39Z


JAKARTA - Tokoh muslimah yang juga Ketua Bidang Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo meninggal dunia. Pakar Fiqih Perbandingan Mazhab ini hembuskan nafas terakhir di waktu mulia pada hari Jum'at, 13 Zulhijjah 1442 (23 Jul 2021) sekitar pukul 06.10 WIB di RSUD Banten.

Sebelumnya, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini sempat dilarikan ke rumah sakit. Wanita kelahiran Donggala, Sulawesi Tengah, 30 Desember 1946 ini dilaporkan meninggal di usia 74 tahun karena virus corona. 

Sejumlah tokoh pun menyampaikan ucapakan duka dan belasungkawa atas meninggalnya Rektor Institut Ilmu al-Quran (IIQ) Jakarta ini melalui berbagai platform media sosial internet. 

"Perempuan Indonesia pertama yang mendapat gelar doktor dari Univ al-Azhar Cairo. Lahal Fatihah," kata tokoh muda NU, Gus Nadirsyah Hosen, atau yang karib disapa GNH melalui cuitannya di Twitter, Jum'at. 

Tokoh muda NU lainnya, Akhmad Sahal, juga menyampaikan hal serupa. Dia mendoakan agar almarhumah husnul khatimah. "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Turur berduka cita. Samoga almarhumah Bu Huzaimah husnul khatimah," cuitnya. 

Umat pun merasa sangat kehilangan dengan tokoh perempuan yang dikenal tegas dalam membentengi muslimah dari pengaruh liberalisme dan pandangan pandangan feminisme radikal ini. 

"Innalillahi Wa innalillahi.. Semoga Allah limpahkan maghfirah kepada beliau... Ingat betul dengan cara beliau mengajar... Barakallah atas ilmu mu Ustadzah," tulis Aa Rizky Aji dalam akun Twitternya @Aarizky7. 

Hal senada diutarakan Elif Pardiansyah. "Innalilahi wa innailaihi rojiun. Turut berduka Prof. Huzaemah adalh sosok perempuan yg baik, cerdas dan tegas. In sya Allah khusnul khotimah," katanya. 

Bagi salah satu muridnya, Ustadzah Tuti Darwati, sosok Profesor Huzaemah tidaklah tergantikan. Lulusan Institut Ilmu Al Quran (IIQ) Jakarta ini merasa sangat kehilangan dengan kepergian wanita kharismatik tersebut.

" Allahummafirlaha warhamha waafiihi wa'fu anha, Aaamiiin," kata Tuti dalam obrolan dengan media ini. 

Tuti yang juga jebolan Pesantren Gontor Putri ini memiliki kesan tersendiri terhadap sosok perempuan penuh sabar yang pakar di bidang fiqih Islam ini. 

Bukan saja sebagai akademisi, almarhumah juga tetap mengisi majelis taklim, seperti majelis pengajian yang rutin diadakan Tuti di perumahan tempat tinggal kala ia masih tinggal di Ciputat.

"Alhamdulillah sempat diajar beliau dan pernah antar jemput beliau untuk isi taklim di Perum Ciputat Baru waktu masih kuliah," kata Tuti yang juga staf pengajar di Rumah Qur'an Hidayatullah ini.

Ketua Bidang Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) termasuk public figure yang lantang menyuarakan pentingnya berikhtiar mengutamakan keselamatan jiwa dalam menyikapi pandemi. Bahkan ia sampai meningatkan masyarakat tak perlu takut dengan vaksinasi COVID-19.


"Kalau sudah ada keputusan tidak berbahaya, ya sudah jangan takut," kata Huzaemah seperti dilansir media awal tahun ini. Huzaemah menekankan hal itu karena masih adanya kekeliruan dalam memandang vaksin. 


Padahal, beliau menegaskan, asalkan vaksin sudah dinyatakan tak mengandung unsur haram dan tidak berbahaya bagi keselamatan jiwa dan raga maka tak perlu ragu menggunakannya. 


Selain itu, di saat masyarakat di berbagai tempat amat takut dan terkesan mengabaikan jenazah terpapar corona karena dianggap bisa menularkan, beliau lagi lagi tampil terdepan menyuarakan agar kita tetap menghormati jenazah pasien Covid-19. 

Profesor Huzaemah mendorong masyarakat tak menolak pemulasaran jenazah pasien Covid-19 karena memakamkan jenazah menjadi kewajiban atau fardu kifayah yang harus dilaksanakan.

Huzaemah adalah tokoh perempuan Indonesia yang kharismatik dengan keilmuannya yang amat mumpuni. Beliau adalah doktor jebolan Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dan merupakan di antara sedikit intelektual perempuan di Indonesia. 


Kecerdasan almarhumah pun sangat menonjol, terbukti ia berhasil menjadi perempuan pertama yang berhasil meraih gelar doktor dari Al-Azhar dengan predikat cumlaude pada tahun 1981. 


Huzaemah juga getol membendung berbagai pemikiran feminisme radikal dengan konsistennya menyuarakan pentingnga wanita untuk tetap memperhatikan peran domestik atau rumah tangga. Ia pun turut mewarnai diskursus dan perdebatan hukum Islam di Indonesia yang pemikiran dan gagasan gagasannya banyak dikutip sebaga rujukan.


Bukan saja sebagai pemikir dan menjadi cendikiawan muslimah yang amat menonjol pengaruhnya, almarhumah banyak mengemban amanah sebagai pemimpin di sejumlah bidang. Diantaranya ia pernah menjadi Pembantu Dekan I di Fakultas Syariah dah Hukum Universitas Islam Indonesia (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.


Selain itu, beliau juga didapuk memimpin Institut Ilmu al-Quran (IIQ) pada Direktur Program Pascasarjana  dan sekaligus Rektor Institut Ilmu Al-Quran untuk peride 2014-2018. Salah satu pembicara pada Konferensi Toleransi bertajuk Formulasi Baru Toleransi, Etika Toleransi, Peluang bagi Perdamaian, dan Aliansi Keutamaan (Alliance of Virtous) di Abu Dhabi ini juga menjadi anggota Komisi Fatwa MUI sejak tahun 1987, menjadi anggota Dewan Syariah Nasional MUI sejak 1997 dan sejak 2000.

×
Advertisement Link di Sini