Notification

×

Iklan

Iklan

Bukah Hanya Cinta, Memberi pun Jangan Menariknya Kembali

Minggu, 01 Agustus 2021 | 17:17 WIB Last Updated 2021-08-02T10:48:34Z


Oleh Sarah Mardhiyah Abbas*


DI MASA remaja, atau mungkin pasnya usia mahasiswa, seperti usia kita kita sekarang ini, kita sering menyaksikan orang yang dimabuk asmara. Atau istilahnya, cinta monyet. 


Bagaimana sih orang yang dimabuk asmara? Biasanya sikapnya akan berbeda seperti hari hari biasanya. Dia mungkin akan banyak tersenyum, cekikikan di pojok pojok ruangan sambil menatap layar handphone. 


Begitulah orang dimabuk cinta. Dia menjadi budak cinta, atau bucin istilah anak Sawangan. Apapun akan dia lakukan demi cinta karena ia merasakan sebuah ekstase berbeda yang mengaliri sekujur tubuhnya. 


Eksate itu lalu pelan pelan menjelma menjadi kesenangan demi kesenangan. Pada akhirnya, dua pasang anak manusia yang sedang dimabuk cinta ini selayaknya pemilik dunia, yang lain hanya ngontrak. 


Itulah dahsyatnya cinta. Pahit menjadi manis, sedih pun seketika bisa menjadi gembira. Karena cinta, orang yang sakitpun bisa sembuh seketika. 


Pertanyaannya, mengapa pengaruh cinta bisa sedahsyat itu? Tak lain adalah karena kata kata. Ya, kata kata yang terucap dari lisan yang tak bertulang ini.


Kalimat yang terangkai manis lalu meluncur dari mulut "berbisa" memang bisa membuai siapapun yang mendengarnya. Itulah mengapa ada isitilah "cinta itu buta". 


Nah, kalau efek cinta sebegitu dahsyatnya padahal ia hanya berawal dari kata-kata yang dihantar oleh tatapan mata, maka demikian pula dahsyatnya ketika kita menyatakan pemberian sesuatu kepada orang lain. 


Namun, sayangnya, dalam konteks cinta, banyak orang yang hanya manis di bibir. Tidak sedikit yang pandai sekali mengutar kata demi memuaskan hasrat sesaat. Maka tak heran, banyak yang kemudian menjadi merana karena cinta. 


Demikianlah pula berlaku pada pemberiaan. Jika pemberiaan yang kita berikan pada orang lain, lalu di kemudian hari itu ditarik kembali, maka itu bisa membuat si penerima merana dan amat terpukul. 


Bahkan, Rasulullah SAW sendiri melarang kita untuk menarik pemberian yang sudah dikeluarkan tanpa alasan syar'i. Rasulullah dengan tegas melarang kita menarik hadiah atau hibah yang telah diberikan. 


Dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah halal jika seseorang memberikan pemberian kemudian dia menarik lagi pemberiannya, kecuali orang tua (yang menarik lagi) sesuatu yang telah dia berikan kepada anaknya." (HR. Abu Daud, Tirmidzi, An-Nasa-i, dan Ibnu Majah).


Tentu saja, ada pengecualian mengenai harta hibah yang boleh diminta kembali, hal ini sebagaimana keterangan Syeikh Abu Ishaq asy-Syairazi atau Imam as-Syairazi (w. 476 H). Beliau orang yang sangat otoritatif di bidang fiqih yang namanya kerap menjadi referensi dalam mazhab Syafi'i.


Menurut Syeikh Imam as-Syairazi, apabila hadiah atau hibah itu dari orangtua kepada anaknya maka sang orangtua tersebut diperbolehkan mengambil kembali hibahnya. Selain itu tak boleh, kecuali atas kerelaan dari orang yang diberi. Termasuk pemberian suami kepada istri atau sebaliknya. 


Kalau kata orang cinta itu tidak mudah didefinisikan, hal ini tidak berlaku dalam masalah hibah. Hibah atau pemberian dalam Islam sangat jelas kedudukannya dan oleh fuqaha dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu: 


Pertama, al-Hibah. Yaitu, suatu pemberian tanpa mengharapkan penggantian atau balasan. 


Kedua, shadaqah. Hibah jenis kedua ini adalah suatu pemberian zat benda dari seseorang kepada yang lain tanpa mengganti dan hal ini dilakukan karena ingin memperoleh ganjaran atau pahala dari Allah SWT.


Yang ketiga, wasiat. Menurut ahli fiqih nusantara Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, wasiat adalah suatu akad yang dimana akad itu mengharuskan dimasa hidupnya mendermakan hartanya untuk orang lain yang diberikan sesudah wafatnya.  


Jadi, menurut beliau, wasiat adalah pemberian yang diakadkan ketika pemberinya masih hidup dan diberikan setelah yang mewasiatkan telah meninggal dunia. 


Dan, jenis hibah yang keempat atau yang terakhir, adalah hadiah. 


Hadiah adalah pemberian dari seorang teman, sahabat atau rekanan kepada orang yang disenangi tanpa adanya penggantian dengan maksud memuliakan karena udah berusaha kerja keras untuk menggapai sesuatu.


Nah itulah sedikit catatan mengenai pandangan Islam tentang hadiah atau pemberian yang diberikan lalu ditarik kembali. Poinnya adalah, tidak boleh menarik kembali pemberian yang sudah diberikan pada orang lain. 


Demikian halnya hibah, maka seharusnya perasaan cinta yang sudah terlanjur diutarakan seharusnya tidak boleh ditarik lagi tanpa ada alasan yang membenarkan. 


Seperti dalam biduk rumah tangga, misalnya, tanpa kata kata yang bisa dipegang maka akan berantakanlah jalinan cinta yang sedang dibangun. Itulah sebabnya kenapa aqad nikah menjadi momen sakral, karena disitulah janji suci terucapkan. 


Sekali memberi maka yakinilah itu sebagai hibah yang dilandasii dengan nawaitu suci yang semata mata hanya mengharapkan ridho Allah Ta'ala dunia akhirat.


Begitupun dalam aqad nikahmu nanti, siapapun kelak yang akan menjadi pendamping hidupmu, maka maknailah akad ijab qobul itu dengan hati suci dan penuh percaya diri bahwa engkau siap sehidup semati bersamanya. 


*)Sarah Mardhiyah Abbas, penulis adalah mahasiswa Prodi Akuntansi Syariah Fakultas Ekonomi Islam Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) SEBI, Sawangan Depok

×
Advertisement Link di Sini