Notification

×

Iklan

Iklan

Milad 50 Tahun Hidayatullah: Terimakasih Atas Tempaanmu!

Minggu, 08 Agustus 2021 | 23:00 WIB Last Updated 2021-08-11T11:06:11Z


Oleh Yusran Yauma


PERGOLAKAN batin bagi para pencari ketenangan akan terus terjadi hingga akhir zaman. Begitu pula yang saya alami. Setidaknya sejak lulus SMA. Serasa banyak yang kurang, baik dari sisi ekonomi lebih-lebih dari sisi spiritual.


Menjalani rutinitas hidup yang begitu begitu saja, membuat saya merasa seperti ada yang hampa. Disinilah masa pencarian itu bermula. 


Tepat setelah 6 bulan menjadi pramuniaga di salah satu swalayan termasyhur di Kota Air, Luwuk Banggai, saya beranikan diri untuk bergabung di 'dunia lain' yang ketika masuk terasa benar-benar asing.


Sebelumnya, saya amat buta dengan Hidayatullah. Kala itu saya hanya mengetahuinya sebagai tempat aktifitas keagamaan seperti pada umumnya lembaga keagamaan Islam. 


Namun, lama kelamaan, saya jadi penasaran, terutama ketika menyaksikan nuansa kearaban dan suasana belajar mengaji bersama di Pondok Hidayatullah Luwuk Banggai yang berada di Jalan Urip Sumoharjo. Suasana di sini terasa berbeda dengan suasana lingkungan sekitarnya.


Kurang lebih 3 bulan saya memperhatikan pondok itu, khususnya di waktu shubuh. Saya yang ketika itu waktu shubuh sudah bangun namun jadwalnya adalah lari pagi. Setiap kali melewati pondok itu, seakan ada perasaan kuat untuk bergabung dan memperbaiki diri.


Tepatnya, 7 November 2001, 3 hari jelang Ramadhan, saya diterima bergabung di Pesantren Hidayatullah Luwuk Bangga. Seminggu sebelumnya sudah silaturahim ke pondok untuk menanyakan apakah bisa bergabung di pondok itu. 


Ketika itu saya diterima langsung oleh Ustadz Hafidz Al Mandari, seorang ulama muda yang sudah hafidz Qur'an saat itu.


Pengalaman Rohani Perdana


Setelah shalat isya, saya pamitan ke keluarga di rumah yang saya tempati selama ini untuk pindah ke lokasi Pondok Pesantren Hidayatullah untuk memulai sejarah baru.


Malam itu saya pun masuk pondok dan diarahkan ke asrama dan segera beristirahat. Mata pun terpejam untuk menyudahi aktifitas hari itu yang memang cukup melelahkan karena menyiapkan beberapa hal untuk masuk pondok. 


Sedang asyik asyiknya terlelap, tiba tiba terdengar suara ribut ribut padahal jam baru menunjukkan pukul 02.30. Saya pun terbangun dan memasang kuping baik baik untuk mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. 


Suara grusak grusuk yang datang dari kamar lantai 2 itu membuatku semakin penasaran dan bertanya tanya. Saya yang baru perdana menginap di pondok pun agak bingung dengan apa yang sedang terjadi.


 "Ini anak-anak ngapain tengah malam begini bangun dan ribut-ribut. Ganggu orang dan tetangga istirahat," pikir saya waktu itu.


Namun, suara ribut ribut itu tidak berlangsung lama. Hanya sekitar 5-10 menit. Setelah lenyap dari pendengaran, saya kembali melanjutkan tidur yang sempat terganggu. 


Setengah jam kemudian, saya kembali terbangun. Kali ini bukan karena suara ribut ribut tapi memang dibangunkan. Saya pun langsung menyadari tinggal saya di kamar itu, yang lainnya entah kemana. Belakangan baru saya ketahui yang membangunkan adalah ketua pondok, Ustadz Abdul Muhaimin. 


Sebagai penghuni baru saya belum kenal beliau, rupanya penghuni dibangunkan dan diajak shalat lail (tahajjud). Saya pun langsung mengerti dengan suara suara ribut di awal tadi. 


Dengan berat hati karena belum terbiasa, saya ogah-ogahan ke kamar mandi namun tetap memaksakan diri. Setelah bersih bersih dan bersuci, saya segera menyusul ke musholla.


Disinilah saya merasakan pengalaman pertama shalat tahajjud. Ditengah menahan rasa kantuk yang luar biasa, ujian untuk menahan diri agar tetap bisa berdiri pun menjadi tantangan lainnya. 


Ayat yang dibaca panjang-panjang, rukuk dan sujudnya pun lamanya minta ampun. Khusus ketika saat sujud, saya awal-awalnya merasakan susah bernafas. Pengalaman ini begitu membekas, karena seumur hidup belum pernah merasakan shalat yang begitu berat.


Tiga tahun berada di Hidayatullah Luwuk Banggai, saya berniat untuk merantau. Niat awalnya mau kerja di Bontang. Saat 2004 itu infonya perusahaan tambang sedang butuh banyak tenaga kerja dengan info iming-iming gaji 'selangit.'


Sebulan lebih rencana berangkat ke pulau Kalimantan sedikit tertunda karena biaya transportasi belum cukup.


Pamit Berangkat Kerja Pulang Bawa Gelar


Sejak tahun 2004 sampai 2009 orangtua dan keluarga masih menganggap saya sudah kerja di perusahaan tambang batu bara di Kalimantan Timur. Padahal sedang terdampar. 


Saat itu kami bertiga dari Sulawesi. Kebetulan salah satu dari kami sudah pernah ke Kalimantan. Kami saat itu bertiga mampir ke Kampus Hidayatullah Karang Bugis, Balikpapan.


Beberapa hari di Balikpapan, kami terus berkomunikasi dengan kawan di Bontang yang memberikan info tentang "perusahaan tambang sedang butuh banyak tenaga kerja" dengan gaji selangit itu.


Kami terus berusaha terhubung dengan Bontang untuk memastikan apakah sudah bisa bergeser atau bagaimana. Terus menanti kabar gembira dari Bontang, yang datang malah informasi menggantung. Ternyata hingga beberapa bulan tidak ada perkembangan.


Lambat laun, saya merasa semakin nyaman dengan suasana Kampus Hidayatullah Karang Bugis. Saya bahkan sempat ditawari oleh para pengurus di Karang Bugis untuk kuliah di STIS Hidayatullah. Namun tawaran itu tidak berani saya ambil, karena takut duluan dengan info bahwa harus bisa bahasa Arab dan hafalan Al-Qur'an. 


Sejak saat itu, kami bertiga akhirnya berpisah. Agenda semula untuk bekerja di perusahaan tambang juga sudah pupus. Dua kawan ke STIS Hidayatullah Gunung Tembak, saya tetap di Karang Bugis dan dimasukkan ke STIKOM Balikpapan.


Sebulan setelah berpisah dengan dua kawan, Mas Hariyanto dan Side Syafrudin, saya diajak bantu-bantu di kantor Yayasan Hidayatullah Karang Bugis. Dari kantor yayasan inilah, saya mendapatkan brosur Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) di Kota Depok, Jawa Barat.


Mulai dari situlah saya banyak bertanya ke Ust Arif Sufia Gandadipura, tentang STIM waktu itu. Banyak masukan beliau saat itu untuk memberikan gambaran tentang STIM sebagai institusi pendidikan tinggi baru di Hidayatullah.


Setelah Ramadhan 2005 itu dan meminta doa restu dari pengurus, saya bersama kawan bernama Muslim akhirnya memutuskan berangkat ke Jakarta. Kawan saya, Muslim, sebelumnya sudah masuk di STIS Gunung Tembak, namun beliau galau dan memutuskan untuk ikut lanjut ke STIM Depok.


Seingat saya, mulai bergeser ke Depok itulah silaturahim dengan keluarga besar di kampung terputus. Komunikasi mulai tersambung kembali dengan keluarga di Desa Kampungbaru, Kecamatan Tinangkung Selatan, Kabupaten Banggai Kepulauan, ketika mau akhir perkuliahan di STIM yang sekarang bertransformasi menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIE HIDA) Depok.


Setelah selesai penulisan skripsi, ujian dan tiba acara penugasan, saya pribadi tidak tahu akan "dilempar" ke mana. Saat dibacakan ternyata tempat mengabdi di Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Pusat Jakarta. Artinya tidak ke mana-mana, padahal saat itu santer info akan banyak alumni yang akan dikirim ke luar pulau Jawa.


Sebelum masuk ke BMH, saya sempat pamit pulang dahulu ke kampung halaman. Alhamdulillah, akhir 2009 bisa silaturahim dengan keluarga besar di kampung. Kurang lebih 6 tahun baru tersambung silaturahim dan bersua kembali dengan keluarga besar. 


Tugas di BMH dan Lika-Likunya


Sejak awal tahun, tepatnya 4 Januari 2010 adalah hari pertama kali berkantor di BMH. Hingga hari ini masih diamanahkan bergabung di BMH.


Sejak di BMH, saya sudah pernah merasakan pindah tempat tugas sebanyak 4 kali. Banyak suka duka dalam pengabdian di empat daerah berbeda tersebut. Sehingga istri selalu bercanda, kayaknya kita harus selalu siap siaga dengan siklus 3 tahunan di amanah tugas ini.


Nikah Massal


Di mana-mana yang namanya menikah itu sudah ada calon mempelainya. Baik calon laki maupun perempuan. Namun, saat saya menikah di akhir 2010 lalu bagi keluarga besar di Sulawesi seperti mimpi dan aneh.


Keanehan bagi keluarga besar adalah ketika saya menyampaikan akan menikah di tanggal 26 Desember 2010. Dengan sigap berderetlah pertanyaan untuk memastikan bahwa anak mereka yang merantau itu benar-benar akan menikah.


"Yus, tanggal 26 itu mau menikah di mana sama siapa," tanya Ibu.


"Tanggal itu sudah ditetapkan panitia, jodohnya menyusul, Insya Allah," jawab saya sekenanya.


"Itu nikah apa. Di mana-mana, namanya menikah itu sudah ada calon suami dan istri baru tentukan hari pernikahan. Ini tentukan hari pernikahan dulu baru cari jodoh. Memang bisa dapat? Yakin bisa nikah tanggal itu?," demikianlah deretan tanya ibu heran. 


Sejak saat itu, kurang lebih satu bulan sejak menyampaikan akan menikah sampai hari H, telepon berdering terus setiap hari untuk memastikan bahwa tanggal itu benar dan akan menjadi hari bahagia bagi pribadi dan keluarga di kampung.


Pernikahan massal barokah perdana yang digelar di ponpes Hidayatullah Kota Depok ini sebagai langkah awal pengurus baru yang dipimpin oleh Ust Wahyu Rahman dalam memberikan pelayanan kepada kader-kadernya yang sudah waktunya untuk melepas masa lajangnya.


Terakhir, saya pribadi merasa sangat bersyukur. Dalam rentang waktu tersebut begitu banyak proses gemblengan, penempaan, kebaikan, kemudahan dan dukungan selama berada di Hidayatullah ini. 


Semoga segala usaha, bantuan dan arahan semua pihak, Allah SWT balas dengan kebaikan yang berlipat ganda. Selamat Milad 50 Tahun Hidayatullah, terus berkhidmat bersama umat membangun bangsa dan dunia yang bermartabat.


YUSRAN YAUMA, santri Hidayatullah

×
Advertisement Link di Sini