Notification

×

Iklan

Iklan

Menakar Elektabilitas Capres 2024, Tokoh Perempuan Senggol Sandiaga Uno

Selasa, 14 September 2021 | 22:00 WIB Last Updated 2021-09-15T15:21:25Z


JAKARTA - Tokoh perempuan yang juga Ketum Muslimah Al Washliyah 2016-2021 Dr. Hj. Azizah, MA mengatakan penting memperhatikan calon pemimpin terutama dari sisi kualitas dan memiliki kecakapan dalam bekerja bersama dengan kepemimpinan kolaboratif dan efektif.


"Bisa bekerjasama dengan orang lain, nah ini sangat penting. Karena seorang pemimpin itu tidak bisa bekerja sendiri, ia membutuhkan orang lain. Jika bekerja sendiri dia akan lelah," kata Azizah dalam acara webinar politik dan kebangsaan bertajuk "Menakar Elektabilitas Figur Capres 2024 Pilihan Emak-emak", Selasa (14/9/2021). 


Ketua Komisi Perempuan MUI Pusat 2015-2020 ini mengatakan seorang pemimpin membutuhkan orang lain sehingga ia mampu menuntaskan masalah yang dihadapi. 


Kata dia, tentu banyak sekali orang, meskipun tidak semua bekerja, tetapi oleh pemimpin yang memiliki kemampuan kolaboratif bisa memberdayakan semua orang dimana mereka memiliki potensi yang berbeda beda. 


"Bisa bekerjasama dengan orang lain adalah pemimpin yang ideal. Orangnya kharismatik. Simpatik. Apalagi untuk emak emak, suka dengan yang ramah, yang senyumnya manis. Tidak jutek," katanya seraya menyitir moderator yang sebelumya menyebut nama Sandiaga Uno. 


Azizah mengatakan, untuk melahirkan kesadaran politik yang ideal dimana keberpihakan rakyat tidak diukur dari menerima suap, maka perlu dibangun komitmen yang kuat untuk melepaskan rakyat dari kemiskinan. 


Untuk itu, terang dia, dibutuhkan tokoh yang betul betul peduli pada kesejahteraan rakyat, bukan pemimpin yang mengukur segala sesuatu dengan untung rugi. 


"Padahal kalau kita lihat dalam satu kaidah fiqih dalam Islam itu, tashorruf al-Imam ala ar-Ra'iyah manuthun bi al-Maslahah, jadi kewajiban pemimpin terhadap rakyatnya adalah berorientasi pada kemaslahatan, kesejahteraan dan kebaikan rakyatnya," imbuhnya, 


Jadi, lanjut dia, kalau pemimpin hanya mementingkan kepentingan pribadinya, atau kepentingan kelompoknya, maka dia sudah melanggar aturan yang dipikulkan kepadanya. 


"Dan Insya Allah, pemimpin itu ada sudah di depan mata kita, tinggal kita melabelkannya saja pilihan kita ini," katanya.


Dalam pada itu, Azizah menerangkan, dalam lingkungan ormas perempuan, kesadaran politik emak-emak dalam lingkungan ini cukup tinggi. Bahkan terkadang melalui ormasnya, emak-emak ikut berkampanye untuk memenangkan figur capres pilihannya. 


"Emak-emak adalah bagian dari masyarakat dan emak-emak bukan warga kelas dua. Jadi peran emak-emak sangat besar dalam memilih figur pemimpin," imbuhnya.


Sementara dalam lingkungan masyarakat ekonomi bawah, Azizah menyebut, kesadaran politik dalam lingkungan ini lemah sebab mereka tidak peduli dengan hiruk pikuk politik. 


Selain karena mereka masih memikirkan urusan dapurnya, siapapun dan partai apapun yang menawarkan sesuatu, biasanya mereka akan menerimanya.



Oleh sebab itu, menurutnya, penting sekali untuk terus dilakukan edukasi politik untuk kaum perempian. 

Azizah menukaskan, untuk melahirkan kesadaran politik yang ideal dimana keberpihakan rakyat tidak diukur dari menerima suap, maka perlu dibangun komitmen yang kuat untuk melepaskan rakyat dari kemiskinan. 


"Untuk itu dibutuhkan tokoh yg betul-betul peduli pada kesejahteraan rakyat bukan pemimpin yang mengukur sesuatu dengan untung rugi yang mempertaruhkan materinya membeli suara rakyat untuk kepentingan diri dan kelompoknya," pungkasnya. 


Sementara itu, Ketua Umum PP Wanita PUI Dra. Hj. Iroh Siti Zahroh, Msi mengatakan kriteria pemimpin dalam Islam sudah digariskan dengan jelas. Oleh karena itu, ia menjadikan kriteria tersebut sebagau standar dalam memilih pemimpin. 


Lebih jauh, diantara capres potensial yang ada, Iroh menyebut sosok Sandiaga. Menurutnya, tokoh yang kerap disapa papah milenial ini mempraktikkan sikap jujur dan amanah. 


"Dia menyampaikan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) itu riil apa adanya. Background keluarga juga dan memilki pengalaman profesional. Jadi seperti itu mungkin yang terus ada kesinambungan," katanya. 


Menurut Iroh, edukasi tentang politik tak terkecuali yang berkenaan dengan Pilpres amat penting dilaukan karena sangat menentukan pada berbagai aspek kehidupan hingga peradaban bangsa kedepannya. 


Tidak saja pada level individu, menurut Iroh, sosok pemimpin sangat menentukan perkembangan tersebut dan pengaruhnya pada aspek pendidikan, perekonomian, infrastruktur, perdagangan, sosial, politik budaya, dan juga keagamaan.


Dia menyebutkan sejumlah kriteria figur pemimpin yang diharapkan yaitu memiliki rekam jejak yang positif di bidangnya, dikenal baik oleh masyarakat, jujur, jauh dari pencitraan, amanah, profesional, berkinerja baik pada bidangnya, tabligh, fatonah, memiliki kapabilitas tinggi dan prestasi.

×
Advertisement Link di Sini