Notification

×

Iklan

Iklan

Sandiaga Masuk Kriteria Tokoh yang Dijagokan Emak-emak Jadi Capres 2024

Selasa, 14 September 2021 | 23:00 WIB Last Updated 2021-09-16T07:04:16Z


JAKARTA - Nama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno dinilai populer di kalangan kaum perempuan khususnya emak-emak serta dianggap masuk kriteria sebagai salah satu figur yang cukup memadai sebagai capres 2024.


Ketua Umum PP Wanita PUI, Iroh Siti Zahroh mengatakan perempuan atau emak-emak memiliki peranan penting dalam perhelatan Pilpres 2024. Diketahui hampir 50 persen dari 270 juta rakyat Indonesia adalah perempuan. 


Lebih jauh, diantara capres potensial yang ada untuk kontestasi 2024, Iroh menyebut sosok Sandiaga. Menurutnya, tokoh yang kerap disapa papa online ini mempraktikkan sikap jujur dan amanah. 


"Dia menyampaikan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) itu riil. Apa adanya. Background keluarga juga dan memilki pengalaman profesional. Jadi seperti itu mungkin yang terus ada kesinambungan," katanya dalam acara webinar politik dan kebangsaan bertajuk "Menakar Elektabilitas Figur Capres 2024 Pilihan Emak-emak", Selasa (14/9/2021). 


Iroh mengatakan kriteria pemimpin dalam Islam sudah digariskan dengan jelas. Oleh karena itu, ia menjadikan kriteria tersebut sebagai standar dalam memilih pemimpin. 


Lebih jauh, Iroh mengungkap kriteria pemimpin yang diinginkan emak-emak.


Menurutnya, sosok pemimpin yang diinginkan emak-emak di antaranya alim, bisa membangkitkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), berpengalaman, hingga memiliki kapabilitas.


Mengenai peluang sosok Sandiaga Uno, Iroh tidak menjelaskan secara gamblang. Ia mengatakan dirinya hanya menyampaikan kriteria sosok yang mendapatkan tempat di hati kelompok emak-emak.


Dia menyebutkan sejumlah kriteria figur pemimpin yang diharapkan yaitu memiliki rekam jejak yang positif di bidangnya, dikenal baik oleh masyarakat, jujur, jauh dari pencitraan, amanah, profesional, berkinerja baik pada bidangnya, tabligh, fatonah, memiliki kapabilitas tinggi dan prestasi.


Senada dengan itu, tokoh perempuan yang juga Ketum Muslimah Al Washliyah 2016-2021 Dr. Hj. Azizah, MA, mengatakan penting memperhatikan calon pemimpin terutama dari sisi kualitas dan memiliki kecakapan dalam bekerja bersama dengan kepemimpinan kolaboratif dan efektif.


"Bisa bekerjasama dengan orang lain, nah ini sangat penting. Karena seorang pemimpin itu tidak bisa bekerja sendiri, ia membutuhkan orang lain. Jika bekerja sendiri dia akan lelah," kata Azizah dalam acara webinar politik dan kebangsaan bertajuk "Menakar Elektabilitas Figur Capres 2024 Pilihan Emak-emak", Selasa (14/9/2021). 


Ketua Komisi Perempuan MUI Pusat 2015-2020 ini mengatakan seorang pemimpin membutuhkan orang lain sehingga ia mampu menuntaskan masalah yang dihadapi. 


Kata dia, tentu banyak sekali orang, meskipun tidak semua bekerja, tetapi oleh pemimpin yang memiliki kemampuan kolaboratif bisa memberdayakan semua orang dimana mereka memiliki potensi yang berbeda beda. 


"Bisa bekerjasama dengan orang lain adalah pemimpin yang ideal. Orangnya kharismatik. Simpatik. Apalagi untuk emak emak, suka dengan yang ramah, yang senyumnya manis. Tidak jutek," katanya seraya menyitir moderator yang sebelumya menyebut nama Sandiaga Uno.


Dalam kesempatan yang sama, pengamat politik Hendri Satrio menyebut tiga kriteria calon presiden pilihan perempuan khususnya emak-emak yaitu tegas, merakyat dan jujur. 


Menurutnya, Sandiaga memiliki modal tabungan elektabilitas untuk bersaing dalam kontestasi pilpres 2024 di bandingkan dengan tokoh tokoh lainnya. 


"Jadi yang harus diyakinkan oleh Sandiaga Uno sebelum maju adalah Gerindra dulu. Internal. Pak Prabowo rela gak bila kemudian dia menolak untuk tidak maju mengusulkan sosok yang namanya Sandiaga, yang, menurut saya, masih punya peluang lebih baik untuk menang ketimbang pak Prabowo," kata Hendri. 


Sementara itu, Direktur Perludem Titi Anggraini menjelaskan, perempuan harusnya menjadi sasaran pergerakan pasangan calon (paslon). 


Menurut Titi, pemilu mestinya menempatkan suara dan aspirasi perempuan, kebutuhan dan kepentingan politiknya sebagai warna negara. 


"Dan hal itu terdengar dengan nyaring ketika pasangan calon memaparkan apa yang menjadi visi misi, program dan gagasan yang dia bawa melalui pilpres," ujarnya. 


Menurutnya, politik elektoral kita dan dunia politik secara keseluruhan masih jauh dari arah itu dimana pendekatannya masih berupa pendekatan seremoni dan simbolik yang menghadirkan perempuan secara artifisial semata. 


"Makanya ketika bicara elektabilitas paslon dimata emak emak khususnya perempuan, saya kira ada yang lebih penting dari elektabilitas yaitu komitmen. Komitmen dalam bernegara dan berdemokrasi bagaimana melihat perempuan sebagai individu yang punya aspirasi dan itu perlu difasilitasi," imbuhnya.

×
Advertisement Link di Sini