Notification

×

Iklan

Iklan

Songsong Masa Depan Bangsa dengan Meneguhkan Eksistensi Guru

Minggu, 05 Desember 2021 | 14:06 WIB Last Updated 2021-12-07T07:32:10Z



Oleh Ibrahim Abdussalam*


BELUM lama ini kita memperingati Hari Guru Nasional (HGN) yang jatuh pada tanggal 25 November 2021. Berbagai perayaan digelar. Tak ketinggalan, serangkaian acara seremoni penobatan untuk para guru yang berdedikasi. 


Berbagai perayaan tersebut mengindikasikan bahwa bangsa ini masih amat memahami peran dan kedudukan guru. Namun, perlu ditekankan, penobatan dan penganugerahan yang diberikan pada guru tak boleh berhenti hanya pada momentum HGN belaka.


Di waktu yang sama, dapat dipahami guru merupakan figur yang memang tak terelakkan eksistensinya dengan perannya yang luar biasa, namun, di waktu yang sama, masih kurang mendapat apresiasi terutama oleh negara. 


Namun, pertanyaannya kemudian, sejauh mana sebenarnya peran negara dan apakah negara sudah benar benar hadir dalam mengangkat harkat dan martabat guru? Pertanyaan ini barangkali terdengar pahit, tapi kenyataan ini harus kita terima.


Tanpa bermaksud menegasi berbagai kemulian perayaan dan pemberian kado kepada guru pada moment semacam ini, namun perlu ditegaskan bahwa perhatian kita, terlebih lagi, peran negara, tidak cukup hanya sebatas perayaan sesaat. 


Maka pada titik inilah, saya pikir, penekanan artikel ini sampai pada fakta empirik bahwa bangsa dan negara ini perlu berbuat lebih untuk para guru. 


Bagaimanapun, mereka adalah pahlawan bagi peradaban bangsa. Merekalah yang meniupkan semangat itu. Perjuangan mereka untuk mendidik putra-putri bangsa ini begitu tinggi dan perlu mendapatkan apresiasi.


Bangsa-bangsa besar terlahir dari mereka yang senantiasa merawat pendidikan dan memperhatikan para guru. Kita perlu belajar kepada bangsa besar lainnya di belahan dunia ini yang memiliki fokus dalam pemajuan pendidikan, sebutlah seperti Jepang.  


Masih segar betul dalam ingatan kita kalimat kaisar Jepang sesudah bom atom dijatuhkan dan meluluhlantahkan dua kota besar, Hiroshima dan Nagasaki. Apa ungkapan pertama  yang diutarakan si kaisar itu? 


"Berapa jumlah guru yang hidup", itulah pertanyan pertama kali yang keluar dari mulut Kaisar Negeri Sakura itu. Pertanyaan itu menyiratkan bahwa sang kaisar melihat membangun sumber daya manusia lebih prioritas ketimbang merekonstruksi hal material pasca bom dahsyat itu. 


Pikiran besar sang anumerta Kaisar Showa Hirohito itu melampaui zaman dan kini kita bisa saksikan Jepang berhasil menjadi satu diantara sedikit negara super power dunia. Itu karena mereka amat memperhatikan pendidikan dan guru.


Pikiran dan jiwa besar Kaisar Hirohito itu menunjukkan keberpihakannya pada masa depan Jepang yang gemilang dan itu menjadi bukti kepeduliannya atas marwah peradaban bangsanya yang dibangkitkan melalui pendidikan dan memantapkan eksistensi guru sebagai pendidik sekaligus penanam watak (culture value).   


Pertanyaan awal yang diutarakan Kaisar Hirohito itu mengandung makna besar. Pertanyaannya itu juga sejatinya menjadi penting diserap bagi kita di zaman kekinian berkenaan dengan kedudukan guru di negeri ini. 


Bangsa kita, dalam hemat saya, perlu membangun semacam alam kesadaran baru tentang masa depan bangsa yang dimulai dari meninggikan martabat guru. Sebab, tanpa guru yang berkualitas, maka selamanya kita hanya akan begini begini saja. 


Demikian pula, guru tanpa penghargaan yang memadai, tidak akan memiliki kapabilitas untuk kemudian bisa berpacu karena dari para gurulah pendidikan ini maju.  Dan, kemajuan pendidikan akan mempengaruhi kemajuan suatu bangsa.


Kita tentu sepakat dengan pendiri Indonesia Mengajar, Anies Baswedan, yang juga mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, bahwa guru pantas mendapat kehormatan karena guru menjalankan peran terhormat bagi bangsa. Indonesia akan berdiri makin tegak dan kuat dengan kualitas manusia yang mempuni.  


Para guru harus sadar dan teguhkan diri sebagai pembentuk masa depan Indonesia.  Jadilah guru yang inspiratif, guru yang dicintai semua anak didiknya. Ingat, jadi guru bukanlah pengorbanan, melainkan kehormatan. 


Guru dapat kehormatan mewakili kita semua untuk melunasi salah satu janji kemerdekaan republik ini “mencerdaskan bangsa”. 


Maka, seluruh elemen perlu saling bahu membahu membangun kesadaran kolosal untuk menghormati para guru. Bersamaan dengan itu pemerintah harus berperan secara profesional untuk membangun marwah guru. 


Guru harus mendapat tempat yang istimewa mengingat perannya yang amat penting, tidak saja dalam membangun sumber daya manusia yang berkeadaban, melainkan juga agar guru sejahtera sehingga Indonesia pun berdaulat di atas kaki sendiri. 


Saat guru terlayani dengan baik segala macam kebutuhannya, saat guru dihargai dan dimuliakan, saat guru dicintai dan dihormati, maka disitulah ada harapan sebuah bangsa menjadi besar dan menuju sebuah peradaban. Demikian dikemukana Beni Setiawan. 


Karena kita tahu bersama bahwa dari kecerdasan dan kreativitas serta keikhlasan sang guru, disitulah kualitas sumber daya manusia bangsa dibentuk. Maka menjadi kewajiban kita bersama, memposisikan guru sebagai pahlawan bagi bangsa.


Diantara hak guru yang perlu diperhatikan oleh pemerintah adalah soal kesejahteraan.  Kita tahu bersama bahwa di republik ini terjadi disparitas dan ketimpangan yang amat lebar dalam memberikan hak-hak guru. 


Dengan ketimpangan inilah berdampak pada guru yang hidupnya  memprihatinkan, alias jauh dari kata layak/sejahtera.  Di beberapa daerah guru terkadang tidak menjadi prioritas dalam hal kesejahteraan berupa gaji dan tunjangan. 


Bahkan tidak sedikit sang guru masih menerima gaji yang jauh dari kata layak, dan itupun sang guru (honorer) menerima gaji dalam jangka waktu yang lama (sekitar 1-3 bulan).  


Fenomena-fenomena ini menjadi tontonan dari tahun ke tahun.  Bahkan dari tiap fase pergantian pemimpin seakan kondisi ini tidak terselesaikan.


Sangatlah miris, memposisikan mereka yang punya jasa besar dalam pembangunan bangsa dan daerah ini pada satu kondisi yang jauh dari kata layak. 


Padahal, beban berat kita titipkan di pundak mereka sebagai pendidik dan pendamping dalam mendidik putra-putri terbaik bangsa.  Mereka diminta mendidik generasi, tapi kesejahteraan mereka tidak diprioritaskan.  


Wahai para pemimpin jangan menzalimi guru, karena dari  mereka marwah bangsa ini tinggi.  Berka kerja mereka bangsa ini berwibawa.  Dari kerja keras merekalah, Anda dan jutaan pemimpin di dunia ini hadir.  


Karena itu, sekali lagi, istimewakan para guru dalam semua urusan. Ingalah bahwa Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban atas apa yang dipimpin.  Ingatlah bahwa konstitusi mengamanahkan kepada para pemimpin di republik ini (presiden, gubernur, bupati, walikota) bahwa "keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia". 


Maka, saya memandang, sudah seharusnya pemerintah membuka lembaran konstitusi kembali, menghayati maknanya, serta mengamalkan secara berkeadilan. 


 “Orang-orang mukmin dan beramal saleh itu Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala mereka yang telah dikerjakan dengan baik. Mereka itu akan mendapatkan surga ‘Adn yang di bawahnya terdapat aliran sungai, dihiasi dengan gelang emas, memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal sambil duduk bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah.” (QS: Al-Kahfi [18] 30-31)


Semoga Allah SWT menjaga pemimpin-pemimpin kita dan istiqamahkan mereka dalam kebenaran dan keadilan.  


Semoga Allah SWT menjaga guru-guru kita dan memberikan balasan atas setiap langkah pengabdian terhadap agama, bangsa dan negara. 


Dan, sekali lagi, istimewakan para guru dalam semua urusan mereka, Insya Allah, kita songong masa depan bangsa yang terang gemilang. Wallahu a’lam bishawab.


*)Ibrahim Abdussalam, penulis adalah pemerhati pendidikan, lulusan Jurusan Management of Islamic Education di Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor dan saat ini sedang menempuh studi S3 di Institut Ilmu Al Quran (IIQ) Jakarta

×
Advertisement Link di Sini